Tuesday, 26 April 2016

My Life as A Full-Time Traveller

Konon katanya, hidup itu adalah sebuah perjalanan .....


Saat seseorang dilahirkan sebagai manusia, saat itulah Tuhan memerintahkannya untuk melakukan sebuah perjalanan, hingga akhirnya nanti kembali menghadap-Nya. Perjalanan itu ada yang pendek, ada yang panjang; ada yang melaluinya dengan kebahagiaan, ada juga yang mengisinya dengan penuh kesedihan. Tapi kata seseorang yang bijaksana, hidup itu memang isinya kombinasi antara dua hal tersebut: kebahagiaan dan kesedihan, yang datang silih berganti. Kalau bahagia saja, orang tentunya akan jemu. Bahagia yang 'tidak menggigit', mungkin begitu istilahnya. Kalau isinya sedih-sedih saja, maka stress-lah jadinya. Maka dari itu, layaknya roda yang selalu berputar, kebahagiaan dan kesedihan itu datang silih berganti, membuat sempurna perjalanan ini. 

Kok jadi serius amat ya?Padahal niatnya tidak begitu...hehe.


So, here I am. Sedang melakukan perjalanan. Sedang menempuh rotasi bahagia-sedih yang berganti-ganti. Sedang menikmati kehidupan sebagai seorang pengembara. Yes, I am a full-time traveller. Saya memang suka mbolang, jalan-jalan, mengembara dari satu tempat yang lain. Sekarang ini, kondisi tidak memungkinkan untuk travelling seenak perut seperti saat single dulu. Hehe.. Tapi, seperti yang sudah saya tuliskan di atas tadi, kan hidup itu sendiri adalah perjalanan. Jadi, saya tetap bisa dong, disebut 'traveller'. Hehehe...


Mengapa (Baru) Menulis?

Kalau ditanya mengapa baru mulai menulis di saat usia sudah lebih dari seperempat abad dan status yang sudah emak-emak ini, jawabnya yaa ....karena sifat dasar saya ini adalah pemalas dan konsumtif. Saya suka membaca, suka banget. Kan itu konsumtif ya. Hehe. Nah kalau disuruh menulis, yang produktif, suka males karena harus mikir dan lebih milih untuk melakukan sesuatu yang lain, yang lebih simple, yang saya pikir lebih urgent. Walhasil, sudah bertahun-tahun saya tidak pernah menulis (nulis diary juga nggak kepegang). Akibatnya, tulisan saya jadinya amburadul seperti ini, kacau entah EYD-nya, entah diksinya, entah koheren/kohesinya. Dari tulisan ini saja juga bisa dilihat entah nyambung atau nggak dengan judul. Pikiran saya juga udah lemot kalau disuruh mind-mapping dan mikirin mau nulis apa. Jadi merasa bloon dan tidak cerdas. Huhuhuhuuu...

Makanya, biar kecerdasannya sedikit-sedikit kembali, saya memutuskan untuk menulis dan blogging saya pilih karena biar tulisan saya ini 'abadi' (ceilee). Maksudnya biar sewaktu-waktu netbook saya ini rusak, tulisan saya tetap ada di internet. Lagipula, kalau dipublish di internet, akan mudah dibaca daripada harus search file di netbook satu-satu. 

Nulis Tentang Apa?

Karena saya sekarang ini adalah seorang emak-emak yang nyambi bekerja di sebuah dinas yang berhubungan dengan pariwisata, saya ingin mengambil niche yang tidak jauh-jauh dari itu. Jadi yang akan saya tulis nanti akan bertopik tentang parenting, tourism, travelling, marriage life, dan sebagainya yang tidak terlalu melenceng jauh. 

Baiklah, ini adalah blogpost pertama saya dan semoga akan selalu konsisten. Aamiin....


“Menulislah sedari SD, apa pun yang ditulis sedari SD pasti jadi.” 




3 comments:

  1. Kalau bagi saya, nulis itu ibarat sesuap nasi yg harus d cari setiap hari. Ibaratnya kalau gak makan. Salam kunjungan baliknya ya, trmksh :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah, komen pertama. Terima kasiih sudah mampir. Hebat mah kalau sudah bisa konsisten menulis setiap hari. Saya juga usaha praktek walaupun cuma satu kata. :-)

      Delete
  2. Salam kenal juga Mbak :) Ditunggu ya cerita jalan2 di blognya esp tentang daerah2 di Lampung

    ReplyDelete