Thursday, 28 April 2016

Cerita Kelahiran si Anak Rantau

Fyuuh setelah melewati banyak episode drama oh drama, akhirnya blospost ini akhirnya bisa dipublish juga. Ini adalah salah satu episode dalam perjalanan saya sebagai full-time traveller.


Sebenarnya, cerita kelahiran si anak rantau ini ingin saya tuliskan sejak lama, sebelum saya terkena pikunisasi lebih akut lagi. Ingin rasanya kalau Aya sudah besar nanti, dia bisa membaca sendiri cerita tentang kelahirannya. Mungkin bagi orang-orang, cerita ini tidak ada spesial-spesialnya tetapi buat saya, pengalaman melahirkan si anak rantau ini uwoow sekali; yang paling uwow di antara saudara-saudara saya (menurut saya tentunya). Hehehe. Jadi, ini dia cerita kelahiran si anak rantau.


Jauh-jauh hari sebelum Hari Perkiraan Lahir (HPL) Aya yang tanggal 24 Agustus 2015 (versi bidan) dan akhir Juli 2015 (versi SPOg), bahkan sebelum kami merencanakan mau punya anak, saya sudah bercita-cita ingin melahirkan di rantau saja. Alasan utamanya adalah mengirit biaya dan alasan selanjutnya adalah kasihan nanti si baby harus dibawa balik ke rantau dalam usia yang masih piyik. Selain itu, kalau mudik di Jogja, saya harus berangkat jauh-jauh hari sebelum HPL (takut nanti kalau mbrojol di jalan kepiye…), dan oleh karena itu, sayang cuti melahirkannya tidak bisa maksimal 3 bulan. Hehe….Sebenarnya baik dari keluarga saya maupun keluarga suami menginginkan agar saya melahirkan di Jawa saja, dengan alasan ini adalah anak pertama dan saya yang belum berpengalaman. Tetapi saya dan suami sepakat untuk (sok) kuat dan mengatakan kalau semua akan baik-baik saja karena di sini banyak yang sudah dianggap keluarga dan siap membantu.

So, here we go, Aya’s birth story…

Setelah usia kandungan saya melewati 9 bulan dan melewati akhir Juli (HPL versi SPOg), saya makin dag dig dug derr tentang kapan si Dedek ini akan lahir. Tambah parno lagi karena si SPOg ini mewanti-wanti kalau sampai pertengahan Agustus belum melahirkan, terpaksa harus SC karena air ketuban sudah mulai menipis. Duh, SC ini adalah Plan B yang banget banget tidak ingin saya ambil. Tetapi saya tetap menahan diri untuk stay strong dan berpikiran positif, kalau sudah waktunya ya akan terjadi. Semua akan baik-baik saja. Ditambah lagi, beberapa teman dan bidan saya ngedhem-ngedhemi, bilangnya perkiraan SPOg memang biasanya maju, dan banyak kasus kelahiran di mana HPL versi bidanlah yang tepat. Jadi waktu itu, saya kembali adhem ayem. Sayangnya, keparnoan itu akhirnya kembali saat kakak ipar suami saya sudah melahirkan. Kakak ipar ini hamilnya undha-undi dengan saya, HPL-nya cuma selisih sekian hari lebih cepat dari saya. Jadinya, makin getollah saya browsing artikel-artikel tentang cara menstimulasi kelahiran, dan mempraktekannya mulai dari yoga, senam hamil, jalan-jalan, makan nanas, itu…hehehe, dan lain-lain. Saya juga tanya-tanya terus tentang tanda-tanda akan melahirkan, baik dengan teman-teman maupun saudara. Puncaknya adalah pas tanggal 17 Agustus 2015, saya bela-belain datang ke upacara di lapangan. Pagi dan sore. Yang sorenya malah saya jalan kaki sekitar 1 km. Sayangnya, rasa mules-mules yang terkenal itu belum datang-datang juga dan si Dedek batal lahir pas Hari Kemerdekaan deh..hehe.

Akhirnya Satu Per Satu, Tanda-Tanda Itu Mulai Datang…

Pada hari Selasa, 18 Agustus 2015, pagi sekitar jam 07.45 saya merasakan spotting dan disusul dengan pecah ketuban. Feeling saya mengatakan, ini dia saatnya. Alhamdulillah waktu itu saya tidak panik, malah merasa santai sekali. Malah, suami yang sempat panik. Hehe….Lalu, segera setelah saya menelepon bidan, tanpa ditunda-tunda lagi berangkatlah kami berdua ke tempat praktek bidan tersebut. Setiba di bidan, langsung disuruh untuk stay di situ karena memang tanda-tanda utama kelahiran sudah ada. Sudah bukaan 2. Yang saya heran, rasa mules-mules hebat yang fenomenal itu belum juga saya rasakan. Bidan mengatakan, itu karena si Dedek belum cukup turun ke jalan lahir dan saya disarankan untuk banyak-banyak jalan kaki  dan jongkok-berdiri.

Menit demi menit, jam demi jam, akhirnya waktu sudah menunjukkan sekitar jam 4 sore dan kaki saya sudah gempor, tetapi anehnya mules-mules uwow itu belum datang juga. Setelah diperiksa, dari bukaan 2 baru naik ke bukaan 6. Menjelang waktu Magrib, rasa mules mulai datang tetapi bidan tidak dapat menyembunyikan kepanikannya saat menelepon temannya meminta bantuan. Yang bisa saya tangkap dari kata-kata Bahasa Lampung-nya adalah mohon bantuan untuk menangani pasien yang ketubannya sudah pecah dari pagi,  dikhawatirkan akan mengancam keselamatan janin jika tidak segera lahir. Saya sih waktu itu masih (sok-sokan) stay cool. Masih bisa senyam-senyum dan ketawa-ketawa. Hahaha…

And then the climax began…

And I experienced those first things…

Dua jam kemudian, senyum dan tawa saya berubah jadi rintihan ‘auw-auw’ sambil meringis karena mulesnya makin tak tertahankan. Saya yang akhirnya galau karena  bukaannya belum nambah-nambah juga akhirnya pasrah saat bidan merujuk saya ke Puskesmas Krui (di kabupaten saya belum ada rumah sakit; Puskesmas inilah yang paling ‘canggih’). Sebelumnya saya malah minta diinduksi saja pakai oksitosin karena males dirujuk (males ribeut), yang tentu saja ditolak karena itu bukan kewenangan bidan dan dampaknya bisa berbahaya. #wakakak..sotoy banget sih saya.

Setelah sampai di Puskesmas, saya langsung disuruh masuk ruang melahirkan (atau apalah ya waktu itu?lupa), langsung disuruh tiduran, langsung dipasangi infus (buset!itu pertama kalinya saya diinfus!hahahah). Udah pasrah rasanya waktu itu, mau diapa-apain juga boleh, yang penting si Dedek ini bisa segera lahir. Satu jam pun berlalu dan belum ada kemajuan. Suami saya sudah dikomando untuk menyiapkan berkas-berkas rujukan ke RSUD terdekat, yaitu RSUD Liwa yang perjalanannya memakan waktu kurang lebih satu jam melewati Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Saya juga dijelaskan kalau rentang waktu dari pecah ketuban sudah terlalu lama (sudah lebih dari 12 jam waktu itu), sehingga akan mengancam keselamatan si Dedek. Walhasil, surat rujukan sudah ditandatangani oleh dokter, dan supir ambulans sudah dipanggil, ternyata…

And then the moment finally came!

Jam menunjukan kurang lebih pukul 9 dan saya merasakan kontraksi yang semakin intens, membuat saya tidak dapat mengontrol suara saya “Auh, aduuuh, kayaknya udah mau lahir Mbaaaak”. Bidan pun segera melakukan pemeriksaan dan fyuuh, ternyata memang kepalanya si Dedek sudah sampai jalan lahir. Haha…anak pintar kamu, Nak. Nggak mau dikeluarin paksa ya..hehehe. Surat rujukan pun nggak jadi dipakai dan sopir ambulan pun disuruh pulang lagi. Untuk sementara, saya bernafas lega, tidak jadi dirujuk dan kalau dirujuk (katanya) sudah pasti akan di-SC. Namuuun, PERJUANGAN SAYA YANG SESUNGGUHNYA BARU AKAN DIMULAI! :D

Saya baru tahu, ternyata kontraksi itu inilah rasanya. #uwoooow banget.

Saya baru tahu, ternyata rasa malu itu bisa dibuang jauh-jauh saat lahiran. #hahahaduuuhh

Saya baru tahu, ternyata butuh tenaga besar dan nafas yang kuat saat lahiran. #kurang latihan sayaaah

Saya baru tahu, ternyata waktu 3 jam itu rasanya bisa berabad-abad.

Saya baru tahu, ternyata proses melahirkan itu susaaah dilukiskan dengan kata-kata.#wehehehe

Daaan,

Saya baru tahu, ternyata detik-detak menjadi seorang ibu itu bahagia banget dan membuat saya nangis terharu, saat akhirnya Aya lahir ke dunia.

Mahiro Aya Sophia
Born in Krui, Pesisir Barat, 18 August 2015, 11:45 p.m.
4,2 kg, 52 cm

Tetapi, perjuangan saya masih belum selesai. Dikarenakan Berat Badan Lahir (BBL) Aya yang berlebih,  luka robekan yang tercipta menjadi tidak rapi dan saya mengalami pendarahan. Bidan-bidan di Puskesmas sudah angkat tangan dan saya walhasil tetap dirujuk ke RSUD Liwa. Karena kami Cuma bertiga di Krui ini (Saya, Suami, Aya), dan waktu itu tidak ada sanak saudara yang menemani (karena kami over PD..hehehe), kami harus berpisah dengan Aya selama 2 hari. Alhamdulillah bidan yang biasa menangani Aya berkenan untuk menjaga Aya saat saya di Liwa. Walaupun berat dan menguras emosi saya, itu adalah keputusan yang kami rasa terbaik.

Semoga, karena lahir di rantau dengan segala jerih payahnya dan keprihatinannya, kamu akan tumbuh menjadi anak yang kuat, yang mampu menghajar semua rintangan dan kesulitan, Nak. Because life is hard yet beautiful…


Gimana pengalaman lahiran kamu? Mau nyeritain?:-)

No comments:

Post a Comment