Fyuuh setelah melewati banyak episode drama oh drama,
akhirnya blospost ini akhirnya bisa dipublish juga. Ini adalah salah satu
episode dalam perjalanan saya sebagai full-time traveller.
Baca juga: My Life as a Full-Time Traveller
Sebenarnya, cerita kelahiran si anak rantau ini ingin saya
tuliskan sejak lama, sebelum saya terkena pikunisasi lebih akut lagi. Ingin
rasanya kalau Aya sudah besar nanti, dia bisa membaca sendiri cerita tentang kelahirannya.
Mungkin bagi orang-orang, cerita ini tidak ada spesial-spesialnya tetapi buat
saya, pengalaman melahirkan si anak rantau ini uwoow sekali; yang paling uwow
di antara saudara-saudara saya (menurut saya tentunya). Hehehe. Jadi, ini dia cerita
kelahiran si anak rantau.
Jauh-jauh hari sebelum Hari Perkiraan Lahir (HPL) Aya yang
tanggal 24 Agustus 2015 (versi bidan) dan akhir Juli 2015 (versi SPOg), bahkan
sebelum kami merencanakan mau punya anak, saya sudah bercita-cita ingin
melahirkan di rantau saja. Alasan utamanya adalah mengirit biaya dan alasan
selanjutnya adalah kasihan nanti si baby harus dibawa balik ke rantau dalam
usia yang masih piyik. Selain itu, kalau mudik di Jogja, saya harus berangkat
jauh-jauh hari sebelum HPL (takut nanti kalau mbrojol di jalan kepiye…), dan
oleh karena itu, sayang cuti melahirkannya tidak bisa maksimal 3 bulan.
Hehe….Sebenarnya baik dari keluarga saya maupun keluarga suami menginginkan
agar saya melahirkan di Jawa saja, dengan alasan ini adalah anak pertama dan
saya yang belum berpengalaman. Tetapi saya dan suami sepakat untuk (sok) kuat
dan mengatakan kalau semua akan baik-baik saja karena di sini banyak yang sudah
dianggap keluarga dan siap membantu.
So, here we go, Aya’s birth story…
Setelah usia kandungan saya melewati 9 bulan dan melewati
akhir Juli (HPL versi SPOg), saya makin dag dig dug derr tentang kapan si Dedek
ini akan lahir. Tambah parno lagi karena si SPOg ini mewanti-wanti kalau sampai
pertengahan Agustus belum melahirkan, terpaksa harus SC karena air ketuban
sudah mulai menipis. Duh, SC ini adalah Plan B yang banget banget tidak ingin
saya ambil. Tetapi saya tetap menahan diri untuk stay strong dan berpikiran
positif, kalau sudah waktunya ya akan terjadi. Semua akan baik-baik saja.
Ditambah lagi, beberapa teman dan bidan saya ngedhem-ngedhemi, bilangnya
perkiraan SPOg memang biasanya maju, dan banyak kasus kelahiran di mana HPL
versi bidanlah yang tepat. Jadi waktu itu, saya kembali adhem ayem. Sayangnya,
keparnoan itu akhirnya kembali saat kakak ipar suami saya sudah melahirkan.
Kakak ipar ini hamilnya undha-undi dengan saya, HPL-nya cuma selisih sekian
hari lebih cepat dari saya. Jadinya, makin getollah saya browsing
artikel-artikel tentang cara menstimulasi kelahiran, dan mempraktekannya mulai
dari yoga, senam hamil, jalan-jalan, makan nanas, itu…hehehe, dan lain-lain. Saya
juga tanya-tanya terus tentang tanda-tanda akan melahirkan, baik dengan
teman-teman maupun saudara. Puncaknya adalah pas tanggal 17 Agustus 2015, saya
bela-belain datang ke upacara di lapangan. Pagi dan sore. Yang sorenya malah
saya jalan kaki sekitar 1 km. Sayangnya, rasa mules-mules yang terkenal itu
belum datang-datang juga dan si Dedek batal lahir pas Hari Kemerdekaan
deh..hehe.
Akhirnya Satu Per Satu, Tanda-Tanda Itu Mulai Datang…
Pada hari Selasa, 18 Agustus 2015, pagi sekitar jam 07.45
saya merasakan spotting dan disusul dengan pecah ketuban. Feeling saya
mengatakan, ini dia saatnya. Alhamdulillah waktu itu saya tidak panik, malah
merasa santai sekali. Malah, suami yang sempat panik. Hehe….Lalu, segera
setelah saya menelepon bidan, tanpa ditunda-tunda lagi berangkatlah kami berdua
ke tempat praktek bidan tersebut. Setiba di bidan, langsung disuruh untuk stay
di situ karena memang tanda-tanda utama kelahiran sudah ada. Sudah bukaan 2. Yang
saya heran, rasa mules-mules hebat yang fenomenal itu belum juga saya rasakan.
Bidan mengatakan, itu karena si Dedek belum cukup turun ke jalan lahir dan saya
disarankan untuk banyak-banyak jalan kaki
dan jongkok-berdiri.
Menit demi menit, jam demi jam, akhirnya waktu sudah
menunjukkan sekitar jam 4 sore dan kaki saya sudah gempor, tetapi anehnya
mules-mules uwow itu belum datang juga. Setelah diperiksa, dari bukaan 2 baru
naik ke bukaan 6. Menjelang waktu Magrib, rasa mules mulai datang tetapi bidan
tidak dapat menyembunyikan kepanikannya saat menelepon temannya meminta
bantuan. Yang bisa saya tangkap dari kata-kata Bahasa Lampung-nya adalah mohon
bantuan untuk menangani pasien yang ketubannya sudah pecah dari pagi, dikhawatirkan akan mengancam keselamatan
janin jika tidak segera lahir. Saya sih waktu itu masih (sok-sokan) stay cool. Masih
bisa senyam-senyum dan ketawa-ketawa. Hahaha…
And then the climax began…
And I experienced those first things…
Dua jam kemudian, senyum dan tawa saya berubah jadi rintihan
‘auw-auw’ sambil meringis karena mulesnya makin tak tertahankan. Saya yang
akhirnya galau karena bukaannya belum
nambah-nambah juga akhirnya pasrah saat bidan merujuk saya ke Puskesmas Krui
(di kabupaten saya belum ada rumah sakit; Puskesmas inilah yang paling
‘canggih’). Sebelumnya saya malah minta diinduksi saja pakai oksitosin karena
males dirujuk (males ribeut), yang tentu saja ditolak karena itu bukan
kewenangan bidan dan dampaknya bisa berbahaya. #wakakak..sotoy banget sih saya.
Setelah sampai di Puskesmas, saya langsung disuruh masuk
ruang melahirkan (atau apalah ya waktu itu?lupa), langsung disuruh tiduran,
langsung dipasangi infus (buset!itu pertama kalinya saya diinfus!hahahah). Udah
pasrah rasanya waktu itu, mau diapa-apain juga boleh, yang penting si Dedek ini
bisa segera lahir. Satu jam pun berlalu dan belum ada kemajuan. Suami saya
sudah dikomando untuk menyiapkan berkas-berkas rujukan ke RSUD terdekat, yaitu
RSUD Liwa yang perjalanannya memakan waktu kurang lebih satu jam melewati Taman
Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Saya juga dijelaskan kalau rentang
waktu dari pecah ketuban sudah terlalu lama (sudah lebih dari 12 jam waktu
itu), sehingga akan mengancam keselamatan si Dedek. Walhasil, surat rujukan
sudah ditandatangani oleh dokter, dan supir ambulans sudah dipanggil, ternyata…
And then the moment finally came!
Jam menunjukan kurang lebih pukul 9 dan saya merasakan
kontraksi yang semakin intens, membuat saya tidak dapat mengontrol suara saya “Auh,
aduuuh, kayaknya udah mau lahir Mbaaaak”. Bidan pun segera melakukan
pemeriksaan dan fyuuh, ternyata memang kepalanya si Dedek sudah sampai jalan
lahir. Haha…anak pintar kamu, Nak. Nggak mau dikeluarin paksa ya..hehehe. Surat
rujukan pun nggak jadi dipakai dan sopir ambulan pun disuruh pulang lagi. Untuk
sementara, saya bernafas lega, tidak jadi dirujuk dan kalau dirujuk (katanya)
sudah pasti akan di-SC. Namuuun, PERJUANGAN SAYA YANG SESUNGGUHNYA BARU AKAN
DIMULAI! :D
Saya baru tahu, ternyata kontraksi itu inilah rasanya. #uwoooow
banget.
Saya baru tahu, ternyata rasa malu itu bisa dibuang jauh-jauh
saat lahiran. #hahahaduuuhh
Saya baru tahu, ternyata butuh tenaga besar dan nafas yang
kuat saat lahiran. #kurang latihan sayaaah
Saya baru tahu, ternyata waktu 3 jam itu rasanya bisa berabad-abad.
Saya baru tahu, ternyata proses melahirkan itu susaaah
dilukiskan dengan kata-kata.#wehehehe
Daaan,
Saya baru tahu, ternyata detik-detak menjadi seorang ibu itu
bahagia banget dan membuat saya nangis terharu, saat akhirnya Aya lahir ke
dunia.
Mahiro Aya Sophia
Born in Krui, Pesisir Barat, 18 August 2015, 11:45 p.m.
4,2 kg, 52 cm
Tetapi, perjuangan saya masih belum selesai. Dikarenakan
Berat Badan Lahir (BBL) Aya yang berlebih, luka robekan yang tercipta menjadi tidak rapi
dan saya mengalami pendarahan. Bidan-bidan di Puskesmas sudah angkat tangan dan
saya walhasil tetap dirujuk ke RSUD Liwa. Karena kami Cuma bertiga di Krui ini
(Saya, Suami, Aya), dan waktu itu tidak ada sanak saudara yang menemani (karena
kami over PD..hehehe), kami harus berpisah dengan Aya selama 2 hari. Alhamdulillah
bidan yang biasa menangani Aya berkenan untuk menjaga Aya saat saya di Liwa. Walaupun
berat dan menguras emosi saya, itu adalah keputusan yang kami rasa terbaik.
Semoga, karena lahir di rantau dengan segala jerih payahnya
dan keprihatinannya, kamu akan tumbuh menjadi anak yang kuat, yang mampu
menghajar semua rintangan dan kesulitan, Nak. Because life is hard yet beautiful…
Gimana pengalaman lahiran kamu? Mau nyeritain?:-)
No comments:
Post a Comment